Karakteristik Slow Learner
Slow learner dapat didefinisikan sebagai anak dengan fungsi kecerdasan
yang terbatas.Anak slow learner dapat digolongkan Borderline
Intelligence dengan skor IQ (69-89) (dalam skor WISC) Di dalam DSM IV
(Michael, 2000) anak yang mengalami slow learner tidak dapat
dimasukkan ke dalam pendidikan berkebutuhan khusus (sekolah luar biasa), tetapi
masuk dalam pendidikan formal dengan kebutuhan sekolah inklusif. Di mana anak
dengan slow learner dianggap selalu mengalami siklus kegagalan di dalam menyelesaikan mainstream pendidikannya (Shaw, 2010). Di saat dewasa pun
anak-anak slow learner tetap mengalami kelemahan dalam kemampuan
self-perception dan perilaku belajar mereka sehingga mengalami gangguan perilaku
seperti held back dan putus sekolah (Shaw, 2010). Akan
tetapi, bila kondisi ini cepat diatasi dengan intervensi khusus, banyak anak
yang memiliki kecerdasan terbatas juga mampu membangun ketrampilan resiliensi
untuk mengatasi permasalahan tersebut dan dapat lulus dari sekolah menengah
atas sampai dengan menyelesaikan pendidikan tingkat tinggi.
Shaw (2010) menggambarkan terdapat
sejumlah karakteristik dari anak slow learner dibandingkan dengan anak
rata-rata seusianya, yaitu:
- Kesulitan untuk memahami teknik pembelajaran dengan konsep yang abstrak.
- Kesulitan dalam mengubah atau mengeneralisasi keterampilan, pengetahuan, dan strategi belajar, mengadaptasi konsep baru pada situasi yang baru.
- Kesulitan secara kognitif untuk mengorganisasikan materi baru, termasuk asimilasi informasi baru atas informasi sebelumnya.
- Kesulitan mengalami untuk tata kelola waktu dan penentuan tujuan jangka panjang.
- Kesulitan dalam membangun motivasi akademis atau motivasi berprestasi.
Oleh karena itu, anak slow
learner membutuhkan dorongan untuk mengatasi academic motivation deficit
dan permasalahan self-concept, serta untuk melanjutkan pengembangan
keterampilan belajar. Sehingga siswa dengan slow learner lebih
beresiko tinggi terhadap resiko permasalahan perilaku dan kesehatan mental
(Shaw, 2010).
Strategi Intervensi Untuk Anak Slow
Learner
Oleh
sebab itu metode pembelajaran yang di gunakan untuk anak Slow Learner jelas
berbeda dengan anak normal. Di jelaskan bahwa sejumlah strategi umum yang
digunakan untuk intervensi anak yang mengalami slow learner antara
lain instruksi aktif dan konkret, advanced organizational strategy,
increased instructional efficiency, dan motivational strategies (Shaw,
2010 hal.13).
Deskripsi dari strategi dalam
pengajaran dan pembelajaran untuk anak dengan slow learner adalah
sebagai berikut:
- Concrete Instruction . Anak yang mengalami slow learner mengalami kesulitan untuk instruksi berkonsep abstrak. Mereka akan lebih efektif dan belajar lebih baik dengan instruksi berpendekatan: “lihatlah, rasakanlah, sentuhlah, dan lakukanlah” (Shaw, 2010 hal. 14).
- Generalization. Siswa dengan kecerdasan terbatas (Borderline intelligence) dapat belajar dan berlatih strategi belajar atau peraturan seperti yang telah diajarkan kepadanya, akan tetapi mereka sangat sulit untuk mengetahui kapan, dimana, dan bagaimana peraturan tersebut diaplikasikan (Shaw, 2010 hal. 14).
- Organizing Instruction. Membandingkan informasi-informasi yang dipelajari dengan variasi situasi-situasi baru dengan meningkatkan generalisasi serta informasi baru kepada informasi sebelumnya, membutuhkan pengetahuan akan meningkatkan penolakan secara fungsional. Oleh karena itu akan mudah bagi anak yang mengalami slow learner jika menjelaskan materi yang sudah mereka kuasai sebelumnya untuk mempermudah penjelasan materi baru.
- Increasing Instructional Efficiency. Anak dengan kecerdaasan terbatas (Borderline Intelligence) belajar lebih lambat dibandingkan dengan teman-teman seusianya yang berkecerdasan rata-rata. Anak Borderline Intelligence lebih mudah belajar setiap fakta-fakta yang terbatas dibandingkan temannya karena mereka memiliki kekuatan untuk rote memorization. Mereka lebih membutuhkan banyak fakta-fakta terbatas untuk memahami sebuah konsep. Dengan membuat intruksi yang lebih efisien, maka akan memperkecil jurang antara slow learner dan teman seusianya yang berkecerdasan rata-rata. Untuk memudahkannya dibuatlah instruksi yang terorganisasi dengan baik, seperti instruksi dengan bantuan komputer (Shaw, 2010 hal. 15). Tipe lingkungan ini memungkinkan slow learner untuk belajar fakta-fakta terpisah dalam mempelajari generalisasi sehingga mampu mengatasi keterbatasan yang mereka alami.
- Academic Motivation. Dukungan motivasi akademik adalah penting untuk membangun resiliensi akademis dari slow learner. Menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman di dunia nyata membantu mereka melihat keuntungan dari pembelajaran sehingga sangat signifikan sebagai motivator (Shaw, 2010 hal. 15).
- Social and Economic Needs. Anak dengan slow learner sering kali berjuang dengan kegagalan yang kronis, mereka dapat membangun self-concept yang rendah dan memutuskan diri dari lingkungan sekolah. Hal ini penting untuk mengidentifikasi dan mendorong siswa dengan slow learner dalam kegiatan yang membutuhkan keterampilan yang berbeda dan kekuatan lainnya. Menggabungkan anak slow learner dengan rekan-rekan dan anggota lainnya dalam kelompok melalui kegiatan di mana anak dengan slow learner berhasil memberikan kontribusi yang signifikan terhadap motivasi dalam pencapaian akademik dan keberhasilan sekolah (Shaw, 2010 hal. 16).
Tips Pengajaran Untuk Anak Dengan
Slow Learner.
Bagi
orang tua dan guru, berikut ini adalah tips sederhana untuk membantu
pembelajaran baik di kelas dan di rumah. Oleh karena itu diupayakan
bentuk pengajaran yang dilakukan menggunakan strategi:
- Menggunakan intruksi yang konkret.
- Menghasikan kesempatan untuk pengulangan dan latihan yang lebih sering dari keterampilan terpisah atau terbatas yang diaplikasikan kepada tantangan yang berbeda.
- Membangun dasar tata kelola waktu (basic time management).
- Membuat aktivitas yang mereka sukai. (Shaw, 2010)
Referensi
Michael, F.A. (2000). A Study
Guide DSM IV. Washington DC : American Psychiatry
Shaw, S.R. (2010). Rescuing
students from the slow learner trap. Principal Leadership. Februari. 2010



0 komentar:
Posting Komentar